Totto-chan

totto_chan

Totto-chan Gadis Cilik di Jendela (buku terjemahan)
Tetsuko Kuroyanagi
Gramedia

Hari ini jalan-jalan ke Gramedia di jalan Merdeka untuk ikut berpesta buku yang konon didiskon hingga 70 persen. Mengantisipasi kemacetan dan kericuhan parkir maka diputuskan motor ditaruh di parkiran BIP saja. Selain itu biar sehat dan membakar cadangan lemak yang mulai menumpuk dengan sedikit naik turun tangga dan berjalan kaki.šŸ˜›

Setelah cukup lama berputar-putar di dalam gedung baru tahu kalau area bazaar ada di halaman belakangšŸ˜€, pantesanĀ  tidak melihat tulisan diskon satupun didalam toko. Di pojok barat laut dipajanglah buku ini. Buku putih dengan gambar gadis kecil memakai sweater putih mirip domba wool. Diskon 20 persen. Langsung diembat. Sebenarnya dulu pernah baca buku ini. Punya kakak. Tapi sekarang entah dimana dan bagaimana nasibnya, sorry Sis.

Buku ini bercerita tentang kehidupan sekolah seorang gadis kecil yang dipanggil dengan nama Totto-chan. Dia adalah pengarang buku ini, Tetsuko Kuroyanagi. Dimulai dari kedatangannya di gerbang sekolah Tomoe Gakuen, cerita mulai mengalir. Totto-chan bersemangat melihat ruang kelas yang berasal dari gerbong kereta, dan suasana belajar yang unik, dimana setiap siswa boleh memulai pelajaran dengan mata pelajaran yang mereka sukai.

Sesaat kemudian, Totto-chan menjerit kegirangan lalu berlari cepat kearah ‘sekolah kereta’. Dia menoleh ke belakang dan berteriak kepada Mama, “Ayo Ma, cepat! Cepat! Ayo kita naik kereta yang tidak bergerak itu!”

Bagian yang paling menarik dari buku ini adalah ketika datang ruang kelas baru yang berarti akan datang satu gerbong kereta baru. siswa siswi menginap untuk melihat bagaimana gerbong kereta itu datang ketika fajar diangkut dengan trailer dan balok-balok kayu.

Buku ini sarat dengan muatan pendidikan dan kritik terhadap metode pendidikan formal. Sosaku Kobayashi, kepala sekolah dan sekaligus pendiri Tomoe Gakuen memiliki keyakinan bahwa setiap anak haruslah berkembang secara alamiah, tidak dikekang dengan doktrin-doktrin pendidikan yang kaku dan keras. Pada bagian epilog, Tetsuko Kuroyanagi berusaha menjelaskan pemikiran dari Mr. Kobayashi,

Dia yakin setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka ata karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Mr. Kobayashi berusaha menemukan ‘watak baik’ setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian khas.

2 Comments

  1. Posted Juli 18, 2009 at 12:26 am | Permalink | Balas

    Pernah baca juga, buku yang sarat inspirasi, . Seharusnya semua guru membaca buku ini. Substansi utama yang saya tangkap, pendidikan itu bukan sekedar transformasi pengetahuan, ada yang jauh lebih penting dari itu. Penanaman nilai-nilai dengan kesabaran dan teladan.
    Education isn’t about filling a pail but burning a fire..Greats books….

    • Posted Juli 19, 2009 at 10:55 pm | Permalink | Balas

      Benar sekali mas Adhi, metode mengajar kuno dan kaku sudah saatnya ditinggalkan. Pendidikan harus dialogis, fun, dan kreatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: