Pengemis Dadakan

Malam minggu adalah malam yang menyenangkan bagi banyak pemuda pemudi. Mereka yang sudah berpasang-pasang asik masyuk dalam kesibukan malam minggu. Tapi hal ini tidak berlaku bagi saya yang masih sendirian ini. Lone Ranger. Begitulah teman saya suka menyebut kondisi yang saya alami. Baru-baru ini teman saya itu mengakhiri masa-masa Lone Ranger-nya dengan menikahi gadis pujaan hatinya. Entah kapan giliran saya.

Untuk melewatkan malam minggu agar tidak nglangut di rumah saja, saya pergi ke mall. Beli celana panjang, karena salah satu celana panjang saya MIA — Missing in Action — dalam proses mencuci. Inilah harga yang harus dibayar kalau kita mempercayakan sesuatu ke pihak lain. Yawes. Memang harus diikhlaskan.

Pulang dari berbelanja saya lewat di bawah salah satu ikon kota Bandung, persimpangan Dago di bawah jalan layang Surapati.Di perempatan jalan itulah saya melihat pemandangan ganjil itu. Empat orang cowok cewek. Tiga perempuan dan satu laki-laki. Dari penampilannya saya menduga mereka adalah mahasiswa. Mereka juga tidak terlihat seperti mahasiswa kurang gizi. Sudah tidak jamannya lagi. Salah satu perempuan membawa kardus bekas yang terus digoyang-goyang menimbulkan bunyi gemerincing. Isinya uang recehan. Di lampu merah, mereka bergerak dari satu mobil ke mobil lainnya. Dengan laras slendro pelog alakadarnya menyanyikan lagu Halo-halo Bandung sambil cengengesan. Mengharapkan kaca mobil terbuka, dan sehelai tangan keluar meluncurkan beberapa keping receh, kertas lebih baik lagi. Mereka ngamen. Bukan. Mereka mengemis. Pengamen tidak seperti itu. Pengamen menjual jasa seni.

Mungkin mereka sedang mencari sumbangan pikir saya. Entah itu untuk bencana alam, untuk tujuh belasan, atau kegiatan yang lain. Tetapi mereka kan mahasiswa. Berpendidikan. Bersekolah hampir seumur hidup. Dimana akal kreatif mereka? Berjualan makanan misalnya. Itu bukanlah hal yang sulit. Hanya dibutuhkan kemauan dan sedikit usaha. Atau jika tetap ingin jadi pengamen, jadilah pengamen dengan musikalitas yang baik, sehingga pendengarnya akan malu jika tidak memberikan sedikit penghargaan. Lebih baik lagi jika dapat menerapkan ilmu yang telah mereka peroleh di bangku kuliah untuk menghasilkan sedikit uang. Saya mengenal beberapa teman yang hidup dari menjadi freelance programmer semasa mereka kuliah. Mereka bisa mandiri.

Ibu saya sering menasihatkan bahwa hidup itu haruslah memberi. Bermanfaat bagi orang lain. Bukan meminta. Entah berapa bagian dari nasihat itu yang sudah saya terapkan. Rasanya baru sedikit. Tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak merepotkan orang lain. Rasul mengatakan bahwa orang yang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar untuk dijual, itu lebih baik dari orang yang meminta-minta. Jadi jika anda ingin bersedekah, berikanlah kepada lansia yang berjualan di perempatan jalan, orang cacat yang tidak mampu mencukupi kehidupannya, atau para pemulung yang hidup dengan mendorong gerobak rumah-nya kesana kemari. Yang penting ada usahanya.

Yang saya sesalkan dari para pengemis dadakan itu adalah bahwa mereka tidak mengetahui harga dari ilmu yang mereka miliki. Mereka memilih jalan singkat. Mungkin tukang topeng monyet yang tiap hari mangkal di tempat yang sama lebih mengerti itu.

One Comment

  1. Posted Juli 26, 2009 at 12:31 am | Permalink | Balas

    oh my god. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: