Mensyukuri Apa Yang Kita Miliki

Mungkin itu yang disebut dengan bersyukur.
Bisa menikmati apa yang kita miliki.
Mengerti kelebihannya, tersenyum melihat kekurangannya.

Akhir tahun kemarin, kami melakukan suatu perjalanan menyusuri Jawa. Dimulai dari Bandung ke Jogja, Madiun, Magetan, Surabaya, dan paling ujung ke Probolinggo. Bromo. Ketika di Surabaya, di pantai Kenjeran, tempat muda-mudi, tua-muda, berada-papa, bencong-banci berkumpul, disitulah malapetaka itu terjadi.

Kami menyempatkan diri untuk menyewa satu buah kapal untuk menuju suatu pulau kecil yang kabarnya hanya terdiri dari pasir putih dan sangat indah. Ketika si ‘nakhoda’ bilang kita sudah sampai, kami masih bingung dan mencari-cari dimana pulau cantik nan indah yang dimaksud. Sang ‘nakhoda’ seperti memahami kebingungan kami, tiba-tiba nyeletuk, “Ya, disini ini mas,…itu ada warungnya…“. Takjub. Dari tadi kami tidak memperhatikan ada warung di tengah laut, si empunya warung juga dengan santainya berjalan mondar-mandir ke beberapa kapal di sekitar kita. Air laut hanya mencapai lututnya. Ternyata yang dimaksud dengan pulau pasir putih nan indah itu adalah gundukan pasir dengan sebuah warung berdiri di tengahnya. Karena sedang pasang, gundukan itu tenggelam. Kecewa. Curiga ada kongsi dan kongkalikong antara pemilik warung dengan ojek kapal untuk mengelabui pengunjung lugu belagu seperti kami.

Selain pulau, pantai Kenjeran juga menawarkan hal lain yang tak kalah menakjubkan. Persewaan tempat pacaran! Terdiri dari beberapa bangunan kotak-kotak yang dibangun seadanya agak menjorok ke laut. Tempat berpacaran ini tidak tertutup. Hanya bangunan semen dengan atap seng dengan satu gelar tikar di tiap cubical-nya. Tiap pasangan bisa melihat apa yang dilakukan pasangan sebelahnya hanya dengan melongok dari tembok pembatas yang tingginya tak lebih dari setengah meter. Kami juga bisa melihat dengan bebas apa yang mereka lakukan😈.

Bencana terjadi ketika turun dari kapal. Saya tersandung tali kapal sehingga harus puas tersungkur ke batu-batu tempat kapal tertambat. Refleks memaksa kedua tangan menumpu ke batu karang sedangkan kedua kaki masih di atas kapal. Masalahnya adalah, tangan kiri saya sedang menggenggam kamera pocket pinjaman. Sebuah Nikon Coolpix 5100 warna emas yang lucu menggemaskan. Jika berat kamera 100g, dan 1/4 berat saya tertumpu di tangan kiri sedangkan saya diasumsikan jatuh vertikal, maka dengan luas permukaan kamera yang sekitar 60cm2, tekanan P yang tertumpu pada kamera adalah,

P=F/A=m.a/A=(0.1+18.5)G/0.006=3100G Pa

Luar biasa tekanan yang diterima oleh kamera mungil itu. Tetapi ajaib, walaupun sudah gores-gores tergerus batu karang dan sempat tidak mau dinyalakan. kamera mungil itu keesokan harinya bisa menyala lagi. Terdengar bunyi berdecit dan ketukan-ketukan halus, klik tek-tek-tek namun kamera itu tetap berfungsi. Karena itu barang pinjaman, yang dipinjam oleh salah seorang teman seperjalanan dan dipasrahkan ke saya ketika di kapal, saya merasa bersalah. Saya harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah saya lakukan pada kamera mungil itu. Jadilah. Sang pemilik kamera mendapatkan sebuah Nikon Coolpix baru, sedangkan si mungil pindah ke pangkuan saya.

Awalnya saya berpikir untuk apa kamera itu. Walaupun masih berfungsi tetapi sudah obselete. Ketinggalan jaman. Sudah cacat pula. Jadilah dia berbulan-bulan terdiam di pojok laci meja. Hari ini, kamera itu dipulung kembali. Beli baterai. Lensanya kotor berminyak terkena noda tangan dilap hingga bersih. Debu diusir jauh-jauh. Terlihat segar dan cantik kembali si mungil ini. Bekas goresan batu karang tidak mengurangi keindahannya. Coba mengambil beberapa foto. Hei, not so bad. Bahkan terlihat tajam dan warnanya juga vivid dan indah. Saya seperti menemukan mutiara terpendam dari kamera ini. Tentu saja seperti halnya benda model lawas dia memiliki keterbatasan, kekurangan. Tetapi itu semua bukan suatu masalah besar. Bahkan bisa membuat heran bagaimana foto yang indah bisa direkam oleh kamera hampir rusak seperti itu.

Melihat kamera itu dan kesenangan yang saya dapatkan dari kamera mungil itu, saya jadi berpikir bahwa kebahagiaan itu tidak selamanya berada di kemewahan hidup. Kamera itu sudah hampir rusak, tetapi saya bisa menikmati setiap gambar yang dihasilkannya. Saya bisa memahami dan menikmati setiap kekurangan dari kamera itu dan meng-adjust diri untuk mengkompensasinya. Mungkin itu yang disebut dengan bersyukur. Bisa menikmati apa yang kita miliki. Mengerti kelebihannya, tersenyum melihat kekurangannya.

Ini adalah kutipan press release dari Nikon tentang kamera si mungil,

Press Release, Sept 16th, 2004 – Nikon, the world leader in photography, today announced the introduction of the COOLPIX 5100, a slim, lightweight digital camera with 5.1 effective megapixel performance and surprisingly simple operation.
The new Nikon COOLPIX 5100 with an eye-catching champagne gold colour builds on the capabilities of the COOLPIX 4100, featuring the same stylish grip for comfort with all controls located on the back of the camera for convenience and ease of operation. With the enhanced Graphic User Interface (GUI), menus are easy-to-read on a bright 1.6-inch TFT LCD monitor.

With new colour options, the Nikon COOLPIX 5100 makes your picture shooting more creative. Capture images in standard colour, vivid colour, sepia, cyanotype, or black and white. And, the handy AF-assist illuminator function makes it easy to achieve sharp focus in poor lighting conditions. The Blur Warning lets you know if the shot is affected by camera shake – providing a choice to record or not.
A high-quality 3x optical Zoom-Nikkor lens and 4x digital zoom provides a high degree of control over picture composition. The new Nikon COOLPIX 5100 makes it easy to zoom in close on a subject or person, zoom out for group shots, and even has a handy Macro mode which can be used as close as 4cm so that small objects fill the frame.
The COOLPIX 5100 achieves vibrant colors, faithful contrast, and impressive clarity – all made possible by Nikon’s advanced image processing algorithms.

kalau ingin melihat bagaimana kemampuan si kecil ini, bisa ditengok beberapa foto yang diambil dengan kamera tipe ini di Flickr.

Mensyukuri apa yang kita miliki, mungkin dengan itu, yang maha memiliki segalanya mau menambahkan nikmat kebahagiaan dalam hati kita😀.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: