Ceramah 50-50

Pernahkan kalian mengukuti ceramah — atau khutbah, yang menggunakan bahasa daerah?

Bingung.
Gak ngerti.
Celingak-celinguk.
dan pada akhirnya ngantuk.

Beruntung apabila anda mengerti bahasa daerah yang dipakai. Berbeda dengan saya. Walaupun sudah enam tahun hidup di tanah sunda, saya tetap susah untuk mengerti apalagi menggunakan bahasa sunda. Selama hidup di kampus, gaulnya sama anak-anak jawa, apabila dengan teman non-jawa bisa dengan bahasa Indonesia, berkomunikasi dengan penduduk sekitar juga cukup dengan bahasa Indonesia. Jadi buat apa ngerti bahasa sunda. Bahkan salah satu dosen sempat berkelakar, walaupun ITB berdiri di tanah sunda, bahasa daerahnya adalah bahasa jawa, itu karena saking banyaknya mahasiswa asal jawa yang ada di kampus. Bahkan kalau kita berjalan-jalan di kampus dan mencuri-curi dengan percakapan di sekitar kita maka bahasa yang mendominasi adalah bahasa Indonesia, jawa atau sumatera (padang atau palembang), bukan bahasa sunda.

Apabila saya mengikuti ceramah atau khutbah dan sialnya sang udztad kekeuh menggunakan bahasa sunda maka celakalah saya. Dijamin otak kiri saya akan bekerja lebih keras menterjemahkan satu persatu kata-kata yang tumpah dari mulut sang udztad. Sialnya, processing speed otak saya jauh lebih lelet dari berondongan tausiyah dari sang udztad. Untunglah udztad-udztad yang kekeuh itu seringkali tidak 100 persen menggunakan bahasa sunda di sepanjang ceramahnya, jadi masih bisa mengerti sebagian materinya. 50-50 lah, antara ngerti dan gak ngerti. Yang paling membuat keki adalah saat sang udztad mengeluarkan koleksi joke-jokenya yang dijamin sunda pisan. Ketika sebagian besar jama’ah tertawa, saya malah celingak-celinguk, apaan sih? Hehehe. Eskalasinya meningkat tajam di bulan ramadan seperti ini apabila kita mengikuti jama’ah tarawih di masjid-masjid kampung. Kebanyakan udztad yang diundang berasal dari pondok-pondok pesantren nun jauh di pelosok jawa barat yang terbiasa menyampaikan dalam bahasa sunda.

Beberapa kali sempat mencoba belajar bahasa sunda dengan teknik learning by doing tetapi hasilnya tetap kurang memuaskan. Mungkin karena jarang dipakai kali ya. Soalnya teman-teman saya yang sedang belajar di negeri-negeri yang jauh bisa dengan cepat mempelajari bahasa lokal. Mereka dipaksa dan terpaksa belajar agar dapat bertahan hidup.

Jadi, kalau anda adalah golongan kaum perantau seperti saya. Cepat-cepatlah belajar bahasa setempat. Siapa tahu dari communication sklill itu ada yang nyangkut di hati. (^__^)

2 Comments

  1. mas wubby
    Posted Agustus 30, 2009 at 2:16 pm | Permalink | Balas

    Ngareeeeppp,,,ada yang nyangkut di hati! Hehehe

  2. Posted Agustus 30, 2009 at 8:29 pm | Permalink | Balas

    hihihi😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: