Drama Pagi Hari

Semenjak saya mulai tinggal di kosan baru di daerah Sadang Serang, saya mulai menyadari beberapa aktifitas menarik yang terjadi setiap pagi hari di gang sempit depan rumah. Yang pertama kali muncul biasanya adalah penjaja roti keliling. Hebatnya, yang lewat tidak hanya satu tapi bisa lebih dari 5 penjaja roti lewat dalam waktu berdekatan dan hampir semuanya menjual roti dari brand yang sama, Sari Roti. Kelemahan utama mereka adalah mereka lewat terlalu cepat. Mereka telah berkelebat pergi sebelum saya bisa meraih dompet dan kunci rumah. Kalau dipaggil dari dalam rumah (baca:diteriakin), sebagian besar ignore saja. Mungkin mereka terlalu memahami pepatah anjing mengonggong kafilah tetap berlalu. Untungnya karena ada beberapa penjaja yang lewat, maka jika satu gagal masih ada momen berikutnya.

Penjual lain yang menyusul adalah mbok bakul jamu tradisional. Jamunya ditaruh di dalam botol-botol kaca yang tertata rapi di dalam wadah anyaman bambu yang digendong. Di kos saya yang lama juga ada mbok bakul jamu yang suka lewat. Saya tidak kenal beliau, tapi kita beberapa kali ngobrol walau saya tidak pernah beli. Obrolan itu muncul karena ibu itu ingin meminjam buku-buku yang kita punya. Terheran-heran saya kenapa seorang bakul jamu ingin membaca buku tentang elektro dan informatika (penghuni kos lama saya cuma berisi 4 anak elektro dan 1 anak jenius informatika). Apakah ingin memanfaatkan teknologi elektronika untuk membuat speaker mini supaya beliau tidak perlu teriak-teriak untuk memanggil pelanggannnya? Apakah beliau ingin membuat online store jamu? Ternyata bukan itu. Beliau ternyata memiliki putra yang sedang kuliah di Informatika ITB dan beliau kesulitan mendapatkan buku-buku kuliah karena harganya selangit. Hebat sekali, seorang penjual jamu gendong keliling bisa memiliki anak yang kuliah di Informatika ITB. Program studi itu memiliki rangking tertinggi di SPMB, hanya manusia terpilih dari yang terpilih yang bisa diterima disitu. Saya jadi terharu dan teringat pada perjuangan ibu saya untuk tetap menyekolahkan saya di Solo dan ITB ketika ayah saya meninggal saat saya masih di kelas 1 SMU. Dengan penghasilan seorang bakul jamu, tentu suatu perjuangan yang luar biasa hingga bisa menyekolahkan anaknya di ITB. Beberapa kali juga saya berbagi cerita tentang beasiswa di ITB yang telah terbukti bisa membawa saya lulus tanpa perlu membayar seperserpun uang kuliah ke ITB. Beberapa buku sudah saya siapkan tapi hingga saya pindah kos, buku itu tidak pernah diambil. Mungkin putra beliu sudah mendapatkannya dari sumber yang lain, semoga saja.

Yang lewat ketiga bukan penjual makanan tetapi tukang angkut sampah. Tukang angkut sampah di Sadang Serang terdiri dari tiga personel. Semuanya anak muda tanggung umur belasan dengan potongan rambut yang sama, mirip Ariel. Hebatnya mereka ada di seragam kerja yang mereka pakai. Tukang angkut sampah umumnya mengenakan baju kerja tertutup rapat. Seragam orange menyala, lengan panjang, muka tertutup balaclava, memakai sepatu boots karet dan sarung tangan. Tetapi ketiga personel ini beda, mereka berkeliling membawa gerobak sampah pada umumnya, tetapi dengan memakai celana jins ketat, lengkap dengan ornamen rantai bersepuh krom dan rambut tertata rapi dengan model yang saya sebutkan tadi, mirip Ariel. Ini yang disebut dengan gaya dalam bekerja.

Masih banyak penjual lain yang lewat misalnya penjaja gas, minyak goreng, tahu basah, tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah tukang sewa kuda-kudaan. Saya tidak tahu nama resminya, tetapi yang dia tawarkan adalah persewaan mainan kuda-kudaan portable manual. Kalau anda suka main ke pusat perbelanjaan jaman dulu, biasanya ada suatu mainan berupa tunggangan, umumnya berbentuk kuda (makanya saya sebut kuda-kudaan), tapi bisa juga berbentuk lain misalnya mobil, badut, kelinci, pokoknya yang lucu-lucu. Mainan ini memiliki kotak kencleng, yang jika dimasuki sejumlah koin maka kuda-kudaan akan bergerak naik turun (sebenarnya kalau diperhatikan pola geraknya lingkaran) sambil mendendangkan lagu anak-anak. Kalau lagu habis maka berakhir pula kesenangan kita sampai kita memasukkan koin berikutnya. Mainan ini di gerakkan dengan mesin hidrolis yang berada di bawah kuda-kudaan itu. Si emang yang satu ini juga menawarkan mainan yang sama tetapi gerak mainannya diatur bukan dengan mesin hidrolis mekanik, tetapi mesin hidrolis biologis a.k.a kaki si emang sendiri yang berjuang mengayuh pedal agar si kuda-kudaan bisa bergerak naik turun. Biasanya si emang lewat bersamaan dengan jadwal sarapan pagi anak-anak. Ketika mereka lewat, si anak segera naik dan hanya mau disuapi jika dan hanya jika si kuda-kudaan bergerak naik turun. Rejeki si emang adalah seribu rupiah untuk kuda-kudaan satu periode lagu.

Tulisan saya yang berikutnya akan khusus membahas tentang mainan kuda-kudaan ini.

11 Comments

  1. narpen
    Posted Maret 30, 2010 at 8:43 am | Permalink | Balas

    aaah syafiq..
    benar2 seperti catatan harian, tapi gw terharu ngebacanya..
    terutama ttg si mbok jamu,,
    (dan tentang elu..)

    tulisan yg menyentil dan membangkitkan semangat di pagi hari. thx ya🙂

  2. Posted Maret 30, 2010 at 8:09 pm | Permalink | Balas

    idem ah, ah ama narpen.
    hatiku haru biru membacanya.

  3. Posted Maret 31, 2010 at 11:18 am | Permalink | Balas

    @narp & winnu, halah, lebay ^^

  4. Posted April 2, 2010 at 2:11 pm | Permalink | Balas

    Tulisanmu terlihat sederhana namun menyentuh.
    Betapa dari kehidupan sehari-hari kita bisa melihat berbagai potret manusia.
    Saya berharap putra ibu yang jual jamu tadi bisa sukses belajarnya di ITB.

    Ahh jangan-jangan kau berbakat menjadi pengamat, sosiolog dan jurnalis…
    Teruskan tulisanmu ya, sangat menarik….

  5. Posted April 4, 2010 at 7:46 pm | Permalink | Balas

    Salut banget ma ibu penjual jamu itu kak, jadi tersentuh…

    Owh iya, begitulah pedagang keliling sekarang, mereka terlalu cepat, pernah desya mo beli bubur, baru mo ambil uang dah ngilang duluan, kenapa gag jalan pelan aja ya?

  6. Posted April 4, 2010 at 7:48 pm | Permalink | Balas

    @narpen
    kakak blognya gag bisa dibuka ya?

    Apa kabar kak?

    • Posted April 18, 2010 at 11:59 am | Permalink | Balas

      Desya, blog Narpen udah ganti..ada di FB..belum jadi temannya di FB ya?

  7. Posted April 19, 2010 at 6:07 pm | Permalink | Balas

    Owh, ternyata kosanmu sekarang di sadang serang to mas? makane pernah liat lewat di tubagus di pagi hari.. hehe..
    Salam kenal kk.. mohon bimbingannya.🙂

  8. Heru
    Posted Mei 10, 2010 at 10:14 am | Permalink | Balas

    Tulisannya bagus dan menyentuh …. Inilah potret manusia Indonesia.

  9. Posted Mei 13, 2010 at 3:50 pm | Permalink | Balas

    dunia penuh warna. bener2 kalo rezeki itu memang ga bisa masuk logika manusia. pangsa pasar yang sempit, pemasukan yang tidak sesuai dengan resiko pengeluaran, etc. masalah rezeki, cuma “logika” Allah yang jalan.

    • Posted Mei 14, 2010 at 7:59 am | Permalink | Balas

      betul Sa, memang kalau dipikir-pikir rezeki itu datangnya sering tidak bisa dinalar. Itulah kenapa manusia diperintahkan supaya banyak-banyak bersyukur.

One Trackback

  1. […] Sera Sera Masih ingat tentang post saya yang berjudul Drama pagi Hari? Di akhir tulisan saya mengatakan bahwa saya akan mebahas tentang mainan kuda-kudaan itu. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: