Duabelas Jam ke Singapura

Pada jaman dahulu jika seseorang ingin pergi ke Singapura dari Jawa ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Yang pertama adalah naik kapal layar dari Jawa, menuju Bangka Belitung, menyusuri pesisir timur Sumatera, kepulauan Riau, Bintan, Batam, dan sampailah di Singapura. Pilihan kedua lebih sederhana, yaitu naik kapal menyeberang selat Sunda, perjalanan darat dari selatan Sumatera hingga sampai di selat Malaka dan menyeberang ke Singapura.

Masuk ke era pesawat terbang, masih ada dua pilihan yang bisa diambil. Pertama adalah pesawat langsung dari Jawa (Jakarta) ke Singapura, nyaman tetapi fiskal sebesar 1.5 juta rupiah per kepala tentu membantu menguras isi dompet. Oleh karena itu sebagian orang lebih memilih opsi kedua yaitu naik pesawat menuju Batam kemudian dilanjutkan dengan Ferry ke Singapura. Pilihan yang kedua menghemat 1 juta rupiah tetapi membutuhkan waktu yang lebih panjang. Ketika fiskal dihapuskan sejak awal tahun 2009 lalu, tentu pilihan pertamalah yang menjadi populer, apalagi sekarang ada satu maskapai yang berangkat langsung dari Bandung menuju Singapura.

Rute kedua melalui Batam sudah saya rasakan setahun yang lalu. Pada waktu itu ada program serah terima beasiswa dari alumni Elektro angkatan kami ke sebuah SMU di kepulauan Batam. Karena sudah kepalang tanggung sampai di Batam, maka lanjut saja ke Singapura. Waktu itu saya cuma mengeluarkan uang untuk perjalanan Ferry saja, karena tiket pesawat didapat dari hibah teman yang ternyata tidak bisa berangkat pada hari H. Dengan berbekal sebuah kartu KTP pinjaman, saya dan Akari yang juga menggunakan identitas pinjaman lolos dari pemeriksaan petugas check-in counter. Mencoba mengirit ongkos di Singapura, saya dan teman-teman lainnya pun menjadi freeloader di rumah teman yang bekerja disana dengan bayaran sebotol sambal merk Dua Belibis yang konon tidak ditemukan di Singapura. Tentu saja ongkos makan sehari-hari dan transportasi muter-muter Singapura ditanggung sendiri.

Rute pertama, melalui jalur langsung pesawat Jakarta-Singapura saya alami hari Jum’at minggu lalu. Pesawat dijadwalkan take-off pada pukul 20.05 dan mendarat di Singapura pukul 22.45. Saya segera membooking travel Bandung-Bandara di Cipaganti Travel. Saya mencoba memesan travel yang berangkat pukul 3 sore, dengan perkiraan bahwa perjalanan darat ke Cengkareng memakan waktu sekitar 3 hingga 3.5 jam. Tapi apa daya, hanya ada dua pilihan yaitu pukul 2 siang dan 5 sore. Tak ada pilihan lain, maka saya berangkat pukul 2 siang dari Bandung. Sampai di daerah Bekasi, tol macet. Ternyata ada penyempitan jalur karena perbaikan bahu jalan tol. Masuk ke mulut tol dalam kota sudah sekitar pukul 4 sore. Mimpi buruk menjadi nyata, Jakarta macet luar biasa. Hingga pukul 6 sore, travel masih terjebak macet tol dalam kota di seputaran Jakarta Pusat. Masuk ke tol Sedaytmo jalanan lengang, travel dikebut, namun tak ada yang protes karena sudah dag-dig-dug berpikir bakal ketinggalan pesawat.

Hanya tinggal beberapa kilometer lagi ke pintu terminal 1, kemacetan datang lagi. Sampai di terminal 1 sudah hampir pukul 7 petang. Beberapa penumpang travel yang pesawatnya berangkat pukul 7 sudah pasrah dan hanya berharap kalau pesawatnya ter-delay seperti umumnya pesawat rute lokal. Menuju terminal 2 tempat pesawat saya nongkrong, kemacetan muncul lagi. Kalo ini begitu parah hingga mobil berhenti total. Hanya tinggal saya sendiri yang harus diantar, sang sopir pasrah menyerah dan menyarankan saya naik ojek saja. Ojek yang dimaksud ternyata sudah siap sedia dan meminta bayaran 20 ribu untuk sekali jalan dari terminal 1 ke terminal 2. Tak punya daya tawar, saya segera loncat ke jok belakang motor. Sepuluh menit lagi sebelum check-in ditutup.

Motor mogok. Setelah beberapa belas genjotan kick-starter dan berbutir-butir keringat sebesar jagung, maka dengan satu helaan nafas panjang, lafal basmalah, dan satu hentakan kuat ke kick-starter, motor menyala. Tujuh menit lagi sebelum ditutup. Ojek meliuk-liuk dan saya teringat bahwa saya tidak tahu gerbang mana Tiger Airways berada. Sang sopir ojek dengan penuh percaya diri berdasarkan pengalaman bertahun-tahun menyambung hidup di bandara memproklamirkan kalau Tiger Airways ada di pintu D terminal 2.

Satu menit sebelum check-in ditutup. Selembar uang berpindah tangan diwarnai senyum mengembang dari sopir ojek. Melihat sejenak daftar maskapai di pintu D, Tiger Airways tidak ditemukan. Setelah bertanya ke salah satu petugas, ternyata check-in counter Tiger Airways ada di pintu F. Berlari secepat angin sambil menggendong ransel lebih dari 10 kilogram ke pintu F. Tepat waktu saya tiba di depan check-in counter. Diwarnai sedikit lirikan ke tas ransel saya yang lumayan besar, sang petugas menyerahkan boarding pass. Setelah sedikit cap bebas fiskal, antri di imigrasi yang hanya membuka dua pintu loket padahal antrian sudah mengular dan petugas imigrasinya banyak yang nganggur sambil menonton saja, maka saya tiba di boarding lounge.

Perjalanan ke Singapura saya ditemani ngobrol oleh ibu dan anak gadisnya yang duduk di satu row yang sama. Mereka ingin mengunjungi sang anak sulung yang sedang kuliah di Singapura. Obrolan melantur kemana-mana ditemani dengan sebungkus kacang gratisan. Dimulai dari obrolan tentang kemacetan hari itu, biaya kuliah, dan diakhiri dengan saya yang mulai mengantuk. Pesawat tiba di Singapura tepat waktu, pukul 22.45 waktu Singapura di Budget Terminal Changi. Keluar dari imingrasi pukul 23.06, saya segera berlari ke Shuttle Bus untuk mengejar kereta MRT terakhir jalur EW yang berangkat dari stasiun Tanah Merah tepat pukul 23.18. Setelah naik Shuttle Bus ke terminal 1 disambung dengan MRT khusus ke Tanah Merah tanpa satu menitpun waktu terbuang, tetap saja saya ketinggalan kereta terakhir. Sudah pukul 23.30, lapar dan mengantuk. Perjalanan dilanjutkan dengan bus malam Singapura yang disebut dengan Night Rider. Bus ini hanya beroperasi pada malam hari, khusus malam sabtu dan malam minggu saja. Setelah dua kali berganti bus, dan bus berhenti di setiap halte yang bisa ditemukan oleh pak sopir, sampailah saya di rumah teman di daerah Jurong West pukul 2 dini hari. Changi berada di ujung timur Singapura dan Jurong berada di ujung baratnya.

Perjalanan duabelas jam yang melelahkan. Siapa bilang naik pesawat itu cepat.

5 Comments

  1. Posted Mei 1, 2010 at 8:56 pm | Permalink | Balas

    Saat ini kemacetan Jakarta memang parah.
    Jadi kalau mau naik pesawat ke Semarang, yang hanya 40 menit, namun berangkat ke bandara harus 5 jam dari Jakarta, jika siang hari…..bayangkan..kan mendingan naik kereta api ya. Karena itulah, saya lebih suka pilih pesawat yang pagi hari….dan berangkat dini hari…setidaknya macetnya nggak gila2an.
    Belum kalau lagi musim demo….

    Ehh ada tawaran piknik ke pulau Tidung….cuma saya mau tag fotonya nggak bisa, karena sudah terlalu banyak yang ngetag. Kebetulan yang punya fotonya adalah penulis Dewi Razalie, dan bukan friends di FB..tapi tampaknya menarik….karena saya ingat anak-anak EL suka wisata alam.

    • Posted Mei 2, 2010 at 11:30 pm | Permalink | Balas

      Benar Bu, kalau cuma dihitung waktu tempuh udaranya, maka naik pesawat itu cepat, tapi kalau ditambahi waktu check-in, transport dari dan ke bandara maka jadi lama, apalagi ke Jakarta.
      Pulau Tidung ya, dulu waktu ke Kep. Seribu tidak sempat kesini. Pengen jalan-jalan, tapi sekarang sedang musim ujian, PR, dan deadline kerjaan. Jadi mengerem dulu, hehe.

  2. Posted Mei 3, 2010 at 3:42 pm | Permalink | Balas

    Lebih enak kalo di sana punya kenalan vendor…
    Tinggal modal speak-speak sebentar, lalu segera meluncur jemputan gratis plus entertain🙂

    • Posted Mei 10, 2010 at 5:30 am | Permalink | Balas

      wew,

      kenalan punya tapi bukan vendor, speak-speaknya mereka selalu nanya progress kerjaan, hahahaha….

  3. Posted Maret 25, 2015 at 10:25 pm | Permalink | Balas

    Good web site you have got here.. It’s hard to find high-quality writing like yours nowadays.

    I really appreciate individuals like you! Take care!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: