Menjadi Keran

Suatu siang menjelang sore di hari kamis dua minggu yang lalu saya mendapati ketukan di pintu rumah kos. Saya yang masih letih setelah semalam lembur di lab dengan malas membuka pintu.

Di depan pintu ada seorang bapak-bapak tua. Menyangklong tas hitam kumal. Badannya sedikit bungkuk. Wajahnya penuh kerut, salah satu matanya sudah menyempit, kedua matanya tampak keruh dan lelah. Mungkin usianya sekitar enam puluh tahunan. Beliau tiba-tiba berkata,

Dek, rumput di halaman saya rapikan ya, lima ribu rupiah saja

Memang di halaman kos ada sepetak tanah, benar-benar hanya sepetak dengan ukuran 1×1 meter yang tidak terurus dan ditumbuhi rumput liar. Tetapi tampak tidak cukup mengganggu hingga perlu dirapihkan. Saya berkata,

Ah, tidak perlu pak, terima kasih.

Dan tangan saya bergerak hendak menutup pintu.

Tiba-tiba beliau berkata,

Lima ribu rupiah saja dek, saya belum dapat pekerjaan dari tadi pagi

Beliau mulai membuka tas kumalnya dan menunjukkan peralatannya. Sebuah gunting tanaman besar yang berkarat, dan sekop kecil. Saya mulai merasa iba dan mempersilahkannya, sambil menyerahkan lima ribu rupiah yang kebetulan ada di kantong.

Baik pak, tolong dirapihkan saja.

Beliau mulai bekerja. Saya ikut menemani dan mengajaknya mengobrol. Beliau bernama bapak Ndang, tinggal di sebuah desa yang bernama Cibuntu. Saya sendiri tidak tahu Cibuntu itu ada dimana. Tetapi sepertinya saya pernah mendengar tentang tahu Cibuntu, karena saya pernah memotet penjual tahu itu di Pasteur. Mungkin beliau tinggal di desa yang sama. Beliau mulai bercerita bahwa inilah pekerjaannya sehari-hari. Berkeliling kota Bandung menawarkan jasa membersihkan halaman, memotong rumput, atau merapihkan tanaman pagar. Matanya yang putih keruh karena katarak tampak menerawang jauh.

Beliau melanjutkan ceritanya bahwa seharian ini beliau baru mendapat rezeki empat ribu rupiah dari jasa merapihkan halaman seseorang di Ujungberung. Bagi yang tidak tahu, Ujungberung, sesuai namanya, adalah daerah paling ujung timur dari Kota Bandung. Dari sana ke kosan saya di Sadang Serang, jika naik angkot paling tidak memerlukan waktu satu jam perjalanan. Dari empat ribu rupiah itu, seribu beliau gunakan untuk membeli es teh karena kehausan di tengah jalan, dan seribu lagi untuk ongkos angkot. Seribu rupiah tidak akan cukup untuk menjadi ongkos angkot dari Ujungberung ke Sadang Serang. Sepertinya sebagian besar sisanya beliau habiskan dengan berjalan kaki sambil mencari rumah yang halamannya perlu dirapihkan. Hanya tersisa dua ribu di kantongnya. Dua lembar seribuan yang disimpan rapat-rapat di kantong bajunya.

Matanya tampak mulai berkaca-kaca. Sambil memalingkan wajahnya, beliau meneruskan mencabuti rumput.

Saya perlu uang tujuh rebu dek untuk ongkos pulang. Dari adek lima ribu, di kantong ada sisa dua ribu.

Habis sudah uang di tangan hanya untuk pulang.
Saya bertanya,

Keluarga ada pak?

Belua menengok dan kembali lagi memalingkan wajah.

Ada dek

Hanya itu jawabnya. Mungkin beliau tidak ingin lagi melanjutkan ceritanya. Saya teringat tadi membeli sekantong tahu goreng yang sedianya saya pakai sebagai penambah lauk makan siang. Saya suguhkan tahu itu bersama sebotol aqua.

Silahkan pak, kebetulan saya ada tahu goreng. Saya pamit dulu mau mandi.

Saya beranjak pergi untuk bersiap mandi. Memang saya belum mandi sejak hari sebelumnya dan sore itu pula saya harus kembali lagi ke lab.

Setelah selesai mandi, gorengan dan air putih itu sudah tandas. Pak Ndang juga sudah tidak ada. Rumput di petak itu sudah tercabut rapi dan ditata di pojok halaman.

Selesai ashar, saya mulai sadar betapa hati saya ini sudah sedemikian bebal. Sudah demikian banyak kotoran yang menempel sehingga saya tidak bisa bercermin dan melihat bahwa rezeki yang diberikan Allah kepada saya itu sangat banyak. Ketika dengan mata kepala sendiri melihat dan menyaksikan perjuangan Pak Ndang, saya hanya bisa membantunya dengan lima ribu rupiah, sekantong tahu goreng, dan sebotol aqua. Sangat sedikit sekali. Padahal saya tahu saya bisa membantunya lebih dari itu.

Seorang kyai kharismatik bernama Zainuddin pernah berkata bahwa seorang muslim yang mendapat rezeki itu harus seperti keran air. Kalau ada yang memerlukan maka harus siap untuk dibuka dan mengucurkannya kepada yang dibawahnya. Saya ternyata belum menjadi keran. Atau mungkin keran yang mampet karena terlalu banyak kotoran.

Duh Gusti, kawula nyuwun pangapunten,
Kula dereng saged dados keran rejekinipun Panjenengan.

Semoga bapak Ndang mendapatkan rezeki lagi di hari itu dan dimudahkan rezekinya di hari-hari selanjutnya.

3 Comments

  1. Posted Juni 3, 2010 at 2:13 am | Permalink | Balas

    Like this. Bapak ini lebih mulia dibandingkan orang yang meminta-minta atau pengemis yang masih punya tenaga untuk bekerja.

  2. Posted Juli 26, 2010 at 1:49 pm | Permalink | Balas

    hmm…
    memang terkadang kita gak sadar di saat-saat yang menentukan “siapa kita”…dan akhirnya menyesal di akhir’
    sering lupa…

    — salam kenal —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: