Jajan dan Sangu

Sewaktu masih kecil, berapa uang jajan kalian?
Di jawa tengah, uang jajan disebut dengan sangu.

Semasa SD, uang jajanku adalah seratus rupiah setiap hari, dan tidak pernah berubah dari sejak kelas 1 SD hingga lulus. Uang recehan seratusan itu tersedia segepok di sebuah kantong bekas permen di lemari, dan setiap kita berangkat, kita mengambil satu keping seratus rupiah bergambar gunungan wayang. SD-nya tidak jauh, hanya 15 menit jalan kaki, sehingga tidak memerlukan uang transport. Terkadang, godaan untuk mengambil lebih banyak itu ada, dan terkadang pula godaan itu menang, tapi seringkali tidak, dan segepok uang itu akan tetap ada isinya hingga berbulan-bulan. Aku tak pernah menghitung berapa isi didalamnya.

Seratus rupiah hanya cukup untuk membeli sebuah roti dan segelas teh manis di warung belakang sekolah. Jika ingin soto, maka harus berpuasa jajan sehari karena harganya dua ratus rupiah. Jika sotonya ingin ada potongan daging ayamnya, maka harus berpuasa tiga hari. Lebih repot lagi kalau sedang musim kelereng. Sekantung kelereng berisi 6 butir, harganya seratus rupiah. Puasa jajan lagi. Itupun bisa habis dalam sekejap ketika diadu. Pada suatu musim kelereng, permainan saya lagi bagus-bagusnya dan bisa mengumpulkan ratusan kelereng. Ketika musim kelereng habis, seorang teman menyarankan bahwa kelereng-kelereng itu ditaruh dalam wadah plastik dan dikubur di pojok salah satu lapangan. Tak akan ada yang tahu. Ketika musim kelereng berikutnya datang, saya menggalinya lagi, tapi ternyata sudah hilang tak berbekas. Habis sudah semua hartaku, hahaha. Memulai lagi dari nol. Membeli 6 butir kelereng seharga sehari uang jajan.

Lebih repot kalau musim layangan. Ada dua jenis benang, benang plastik/nilon (saya lupa nama istilahnya) dan benang gelasan. harga benang plastik lebih murah, tapi tak akan kuat diadu, sekali sentak pasti melayang. Harga benang gelasan sangat mahal, tak akan terbeli, walaupun berhari-hari puasa jajan. Akhirnya setiap ada layangan putus, kita berlari mengejarnya tetapi targetnya bukan layangannya tetapi benang gelasnya yang dikumpulkan dan disambung-sambung dengan benang nilon karena dalam aduan, seringkali yang berperan hanyalah beberapa puluh meter benang di dekat layangannya saja, sisanya bisa pakai benang apapun asal kuat disentak. Repotnya kalau pas tanding dan uluran, kalau ulurannya terlalu banyak dan sampai ke bagian benang nilon, pastilah langsung putus.

Kalau pas benar-benar bokek, kita biasa main tarik-tarikan daun. Ada sejenis pohon yang ujung dahannya bercabang dua dan memiliki daun kecil-kecil. Kita petik ujungnya, buang daunnya, dan ditalikan kedua cabangnya. Pangkal dahan milik lawan dimasukkan dan lingkaran yang terbentuk, begitu pula dengan pangkal dahan milik kita. Setelah itu ditarik! Jika beruntung, maka dahan kita tak akan putus dan ujung simpul dari dahan lawan akan menempel di ujung dahan milik kita. Semakin banyak menang, maka simpul kita akan semakin besar dan itu disebut dengan mahkota raja. Hahahaha. Kalau lagi benar-benar bosan kita cari buah nangka yang masih sangat muda, bentuknya mirip cerutu. kita pangkas ujungnya, dan dibakar, mirip cerutu beneran! (paling tidak kalau dibandingkan dengan di film). Atau mencari biji kelapa muda untuk dijadikan gasing, atau cari karet gelang dan saling menjepret kemuka lawan, atau main ke kali dan menjaring ikan wader dengan kaos sambil berhati-hati kalau-kalau sesuatu berwarna kuning melayang di dekat kami. Ahh, jaman dulu sepertinya sangat mudah mencari permainan.

Untuk urusan baju, kami biasanya hanya membeli satu stel ‘baju bagus’ setiap tahun, setiap menjelang lebaran. Hanya saat itulah kami membeli ‘baju bagus’, yaitu baju yang bisa dipakai ketika ada suatu acara. Baju-baju yang dipakai sehari-hari pastilah sudah bernoda terkena getah pisang, getah nangka atau sudah mbladus ga karuan. Maklumlah, kedua orang tuaku adalah guru SMP dan MAN dengan gaji tak seberapa. Umumnya yang kubeli adalah kemeja dan celana panjang. Tapi aku dan kakakku tak pernah protes, bahkan tak pernah terlintas dalam pikiran kami untuk membeli baju disaat yang lain. Oleh karena itu, baju yang dipilih saat lebaran haruslah cukup tangguh dan bisa dipakai bertahun-tahun. Mungkin karena ini pulalah, setiap membeli barang, diusahakan cukup bagus agar dapat tahan lama. Aku memiliki tas ransel yang dibeli sejak SD dan dapat bertahan hingga aku lulus SMP, walaupun setiap hari dipakai, bahkan dipakai juga ketika kegiatan-kegiatan Pramuka.

Mungkin keluarga lain mendidik anak-anaknya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengharuskan anak-anaknya bekerja kecil-kecilan untuk mendapatkan tambahan uang jajannya. Misalnya dengan mengantar koran atau memandikan sapi. Ada pula yang membebaskan uang jajan itu sebebas-bebasnya. Entahlah mana yang lebih baik. Tetapi sepertinya kondisi saya dulu ada di tengah-tengah antara kedua titik ekstrim itu. Bagaimana dengan kalian?

6 Comments

  1. Andjas
    Posted Desember 21, 2010 at 8:51 pm | Permalink | Balas

    Serius pik cuma 100 gak naik2?
    aku dulu pas kelas 1 keknya 100 juga. tapi tiap tahun sangune mundak, menyesuaikan dengan tingkat inflasi. koyo ane pas kelas 6, sangune 300 opo 250. Cukup gawe bakso semangkok versi anak SD.
    *tp baksone pancen murah tenan.

    • Posted Desember 21, 2010 at 8:56 pm | Permalink | Balas

      Serius, jaman biyen seringe tuku mammy, harganya cuma jigo, 25 perak. Jaman itu belum krismon, jadi inflasi ga terlalu ngaruh.

  2. Posted Desember 22, 2010 at 8:21 am | Permalink | Balas

    Kenangan yang manis..
    Saya dulu tak pernah diberi uang jajan, padahal pengin banget jajan seperti teman yang lain. Ayah ibu menyiapkan sarapan setiap pagi dengan segelas teh manis.

    Saya baru diberi uang jajan sejak SMP, itupun kalau pas hari olah raga, karena hari lain tetap sarapan. Akibat disiplin ketat ini, saat mahasiswa, setiap kali habis jajan perutnya sakit…hehehe
    Jadi, saat punya anak, mereka diberi uang saku terbatas, tapi tetap harus sarapan.
    Memberi uang saku terbatas ini yang sulit menghitungnya, harus cukup, tak berlebihan supaya anak kita tetap bisa hemat, tapi juga tak kurang apalagi jika sekolahnya jauh dan tak sempat sarapan karena ter buru-buru.

    • Posted Desember 25, 2010 at 7:02 am | Permalink | Balas

      Hehehehe, bahkan persoalan uang jajan untuk anak pun menjadi pelik ya Bu karena harus mempertimbangkan banyak hal.

  3. Posted Oktober 30, 2012 at 7:49 am | Permalink | Balas

    Hello, I read your blogs on a regular basis.
    Your writing style is witty, keep up the good work!

  4. Posted Oktober 30, 2012 at 8:02 am | Permalink | Balas

    I was recommended this web site by my cousin. I’m not sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my difficulty. You’re wonderful!
    Thanks!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: