Rumah di Gang Mesjid

Rumah itu terletak disebuah gang sempit yang hanya muat satu gerobak dorong. Satuannya gerobak dorong karena di dekatnya ada poll penjual buah, penjual bakso, dan penjual nasi goreng. Penjual buah akan mulai lewat berombongan sekitar jam enam hingga tujuh pagi. Penjual bakso agak siangan sekitar jam sepuluh. Lain lagi dengan penjual nasi goreng, mereka keluar berombongan pas adzan magrib berkumandang. Ada yang mampir dulu ke masjid, ada pula yang langsung mendorong gerobaknya ke arah simpang dago, tempat semua keramaian makanan berkumpul.

Rumah itu tak memiliki halaman. Tembok rumah langsung menjadi pembatas jalan. Rumahnya sendiri sekitar dua puluh sentimeter lebih rendah dari badan jalan sehingga kalau hujan pastilah becek. Untunglah jalannya agak miring meninggi. Kalau tidak deras, tak akan berani air itu masuk.

Rumah itu terdiri dari 2 lantai. Lantai kedua dibuat dari papan kayu yang berderak ketika diinjak. Ada ruang tengahnya di atas. Karpetnya biru, sudah bolong-bolong terlalu sering bergesekan dengan pantat-pantat mahasiswa. Kalau musim ujian, banyak yang menginap, mencoba mencari wangsit. Walaupun pada akhirnya banyak yang tergoda TV dan WE.

Rumah itu tempat jemurannya unik. Terletak di luar jendela dan di atas badan jalan. Setiap ada yang menjemur baju, tetangga sebelah akan memperingatkan yang lewat kalau sedang ada hujan buatan karena tetesan air jemuran kita. Sambil tersenyum simpul tentunya, karena semuanya sudah maklum.

Rumah itu kayunya lapuk karena dimakan rayap. Terkadang kalau lagi bosan, aku cuwili sedikit-demi sedikit sekedar membantu rayap-rayap yang bekerja pelan namun pasti menggerogoti dari dalam. Kalau malam sedang sepi, kadang kita bisa mendengar mereka bekerja. Krek, krek.

Rumah itu kamar-kamarnya sempit. Semuanya lima kamar. Tak ada yang lebih besar dari 2m kali 2.5m. Kalau tidur, kepala di ujung tembok utara, dan kaki dekat dengan ujung tembok selatan. Ada dua yang hampir tak punya ventilasi. Syukurlah tak ada yang merokok diantara kami. Jadi paling tidak tidak ada yang mati sesak keracunan asap pekat rokoknya sendiri.

Rumah itu aman walau tak terkunci. Kuncinya sendiri sudah berkali-kali digandakan, tak ada yang asli, sudah beranak-pinak generasi kesekian. Tak ada yang bentuknya sama. Sebenernya kita curiga mungkin saja kunci itu hanya formalitas belaka. Bisa dibuka dengan kunci apapun yang masuk ke lobangnya. Walau ditinggal mudik, tak pernah sekalipun kita kehilangan barang.

Rumah itu strategis. Dekat dengan warung makan yang penjualnya ramah dan makanannya enak. Dekat dengan masjid sehingga kita tak bisa beralasan malas untuk tidak berjama’ah. Dekat dengan jalur angkot. Bilang saja Gang Mesjid kepada supir angkot Cisitu, pastilah mereka paham.

Rumah itu murah. Hanya tujuh setengah juta rupiah setahun. Tiap kepala hanya kena satu setengah juta. Cukup masuk akal untuk kantong perantau-perantau dari Jawa.

Rumah itu telah berjasa menghasilkan paling tidak lima lulusan ITB. Satu Tambang. Tiga Elektro. Satu Informatika. Empat manusia diantaranya telah menemukan kebahagiaan hidupnya masing-masing. Satu lagi masih harus berjuang. Doakan aku kawan.

2 Comments

  1. Posted Desember 22, 2010 at 9:31 am | Permalink | Balas

    Masa lalu memang indah untuk di kenang.
    Saya tak pernag merasakan kontrak rumah bareng teman2 saat mahasiswa, karena dulu pernah ingin kontrak rumah, tapi diingatkan oleh senior. Jika kontrak rame-rame serumah (cewek) risikonya, ada teman yang datang sampai malam tak bisa menolak..dan kita bisa dikeroyok orang sekampung.

    Jika kost, walau mahal, namun aman karena bisa alasan tante kost galak…jika ada yang nggak pulang-pulang. Pada akhirnya terdampar di asrama, sekamar berempat, dan membutuhkan penyesuaian yang berat, apalagi jika sifat masing-masing orang berbeda.

  2. mutiara
    Posted Maret 1, 2011 at 12:34 pm | Permalink | Balas

    like this. Mari kita berjuang n berdoa🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: